Ujian Tengah Semester: Dasar-dasar Teknologi Pendidikan

 UJIAN TENGAH SEMESTER DASAR-DASAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN

DALAM FORMAT TANYA JAWAB

Oleh : Armansyah

Pertanyaan  :

Teknologi pendidikan di landasi oleh falsafah dan teori. Coba anda jelaskan bila anda memandang teknologi pendidikan dari sudut ontology (apa) ? Epistimology (bagaimana) ? Dan aksiologi (untuk apa) ? (skor maksimal 30)

Jawab :

Pengertian dari Teknologi Pendidikan/ Educational Technology sendiri menurut Prof. Yusufhadi Miarso adalah The study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using and managing appropriate technological processes and resources (Proses pembelajaran dan penerapan moral/etika dalam memfasilitasi dan meningkatkan kinerja pembelajaran itu sendiri dengan menciptakan, menggunakan dan mengelola media teknologi dengan sumber daya yang tepat).  Dalam bentuk gambar, maka terminologi Teknologi Pendidikan diatas bisa digambarkan seperti berikut:

Dari pemahaman terhadap pengertian dari Teknologi Pendidikan diatas maka berikut pandangan saya berkaitan dengan Teknologi Pendidikan secara Ontology, Epistemology dan Aksiologi:

Secara Ontology

Manusia pada dasarnya memiliki sifat Wikepo (kadang disebut dengan istilah Kepo saja) atau wish to Know Every Particular Object yaitu selalu berusaha untuk mencari tahu apa hakekat dari setiap fenomena dan kejadian yang dia hadapi. Beranjak dari salah satu sifat manusia ini kemudian berkembang ilmu ontology yang merupakan asas dalam menetapkan ruang lingkup materi yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut. Siswa atau peserta didik pasti ingin pula mengerti dan tahu terhadap segala sesuatu yang menjadi materi pembelajarannya.

Disini peranan dari Teknologi Pendidikan sebagai bagian dari proses pembelajaran antara siswa dan materi pelajarannya dengan memberikan kemudahan melalui penyediaan media sebagai sumber belajar seperti buku panduan, situs-situs tertentu di internet, program televisi, radio dan alat-alat lainnya. Termasuk didalamnya juga peran sumber daya manusia itu sendiri. Sumber-sumber pembelajaran ini, mulai dari manusia sampai alat-alatnya perlu dikelola secara baik dan terus dikembangkan serta dioptimalkan penggunaannya.

 Secara Epistemology

Sebuah pembelajaran yang baik haruslah disusun secara sistematis dan juga praktis. Inilah salah satu objek penelaahan epistemology dalam dunia Teknologi Pendidikan. Bagaimana para pendidik menyusun sebuah kurikulum yang baik, disesuaikan dengan jenjang sekolah maupun kemampuan mereka dalam memahami suatu materi pelajaran, bagaimana metode mengajar yang baik, mulai dari didalam ruangan kelas maupun diluar ruangan, bagaimana cara optimalisasi media pembelajaran yang ada tanpa tergantung pada satu media saja, bagaimana menerapkan strategi belajar ditengah siswa sampai pada cara-cara penentuan hasil dari proses pendidikan yang sudah berlangsung.

 Secara Aksiology

Pada sebuah tahap pembelajaran, setelah melalui bahasan ontology, epistemology maka seorang siswa akan sampai pada sebuah pertanyaan didalam dirinya, “untuk apa pelajaran itu ia pelajari?”.  Inilah bidang kajian dari aksiology yang berbicara tentang integrasi pendidikan terhadap nilai-nilai moral, etika, estetika serta sosial dan politik. Bahwa ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh harus bisa diterapkan dalam lapangan nyata dimasyarakat secara bertanggung jawab dan penuh nilai seni keindahannya.

Pertanyaan :

Anda juga telah mengetahui 4 revolusi dalam dunia pendidikan. Menurut persepsi anda apakah dimungkinkan muncul revolusi ke – 5 dengan kehadiran teknologi pendidikan dalam memecahkan masalah yang menyelimuti pengembangan dan pembangunan pendidikan di indonesia ? (skor maksimal 30)

Jawaban :

Hidup adalah sesuatu yang berjalan secara aktif dan dinamis. Driscoll dalam tulisan Sharon E. Smaldino, Deborah L. Lowther dan James D. Russel (Instructional Technology and Media for Learning, 2012, hlm. 11) mendefenisikan belajar sebagai perubahan terus menerus dalam kemampuan yang berasal dari pengalaman pemelajar dan interaksi pemelajar dengan dunia.

Teknologi Pendidikan memberikan mediasi pada guru dan siswa untuk menjembatani komunikasi terhadap ilmu yang menjadi tujuan pembelajaran agar bisa lebih optimal. Evaluasi, perbaikan dan pengembangan terhadap sistem pembelajaran itu sendiri menjadi sangat penting. Apalagi dalam kaitannya dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Sejak tahun 1989, Dinas Penilaian Teknologi Amerika Serikat menyadari bila kemajuan teknologi akan mempengaruhi pendidikan dan para guru dimasa depan. Di Indonesia, melalui Undang-Undang Telekomunikasi No. 36 tahun 1999 juga mengatur arah laju teknologi informasi sebagai sarana yang mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan, dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, serta mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan.

Salah satu contoh dari sisi keunggulan integrasi teknologi dalam pendidikan adalah memungkinkannya kemampuan untuk mengajar tanpa kehadiran langsung guru dihadapan muridnya secara fisik. Kita bisa menjalankan pengajaran dengan metode time-shift atau alih waktu maupun place-shift atau alih tempat.

Kedunya memberi arti bahwa guru tidak lagi selamanya harus terikat dengan penjadwalan waktu dan tempat tertentu secara khusus sebagaimaan metode klasik. Pengembangan teknologi dimasa sekarang ini juga memungkinkan bagi guru dan murid untuk saling berkomunikasi tatap muka melalui media teleconfrence sampai  teknologi 3G yang ada ditelepon pintar meskipun jarak antara keduanya terpisah ratusan atau ribuan kilo.

Penggunaan teknologi dalam pendidikan terus meningkat diberbagai belahan dunia. Siswa dan guru tidak lagi hanya memiliki akses ke buku cetak sebagai sumber belajar dan mengajarnya tetapi sudah mulai beralih kemateri pendidikan yang terletak jauh melampaui dinding bangunan sekolah dan kampus. Guru dan siswa bisa meningkatkan belajar dikelas dengan mengakses informasi dari sumber-sumber digital melalui teknologi internet, bisa bertukar pikiran dengan ahli-ahli dibidang tertentu sesuai mata pelajarannya bahkan bisa juga saling bertukar data dan ujian secara interaktif.

Dalam lingkup pendidikan disekolah tempat saya mengajar, integrasi teknologi dalam pendidikan sudah diterapkan selama empat tahun terakhir, baik untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi sendiri yang saya asuh sampai pada pelajaran lain diluarnya. Oleh karena itu maka saya sangat mendorong untuk terwujudnya revolusi kelima dalam dunia pendidikan ini.

Pertanyaan :

Dalam teknologi pendidikan/teknologi pembelajaran menurut seattler yang mengacu pada pendapat thorndike , ada beberapa prinsip pembelajaran (1) aktivitas diri, (2) minat/motivasi (3) kesiapan mental (4) individualisasi dan (5) sosialisasi. Bagaimana pendapat anda tentang penerapannya dengan menghadirkan produk teknologi dalam pembelajaran bagi peserta didik? (skor maksimal 30)

Jawaban :

Integrasi teknologi kedalam dunia pendidikan pastinya memberikan dampak yang sangat besar terhadap  terjadinya perubahan pada tingkah laku individual yang meliputi pengetahuan, sikap, atau tindakan manusia (dalam hal ini adalah guru dan siswa).

Secara positip, penerapan integrasi teknologi dalam pendidikan menuntut metode pembelajaran yang aktif, baik dari sisi guru maupun siswa. Guru dan buku cetak bukan lagi sebagai satu-satunya tempat sumber belajar bagi siswa, sebab melalui tersedianya media informasi dan komunikasi dalam banyak bentuknya, siswa secara aktif bisa mengakses pelajaran dari berbagai sumber sehingga bila gurunya sendiri berlaku pasif, bukan suatu hal yang tidak mungkin akan tertinggal dari siswanya dalam hal pengetahuan.

Kenyataan ini seharusnya menjadi motivasi yang kuat bagi kedua belah pihak untuk saling berlomba memperkaya diri dengan khasanah ilmu bervariasi. Kesiapan mental dari sisi gurupun diuji ketika ia misalnya didalam kelas tidak bisa memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan siswa sementara ada siswa lainnya justru bisa lebih menjelaskan dengan baik ketimbang sang guru hanya karena ia secara individual dengan motivasi yang tinggi terlibat aktif mencari informasi ilmu dari sumber-sumber pembelajaran digital di internet.

Begitupun dalam hal sosialisasi, guru dan siswa bisa berinteraksi secara sosial dalam skala yang lebih luas terhadap dunia luar sekolah. Guru dan siswa dari sebuah sekolah di Indonesia bisa sama-sama menjalin komunikasi dan bertukar data dengan guru dan siswa dari sekolah lain di Amerika, Amsterdam, Sydney dan sejumlah negara lainnya didunia.

Ditinjau dari aspek negatipnya, integrasi  teknologi dalam dunia pendidikan perlu diwaspadai sebagai bahaya yang mengancam perilaku dan kehidupan sosial siswa (termasuk juga guru).  Terlalu aktif dan bermotivasi dalam menggali sumber-sumber informasi yang tersedia melalui media teknologi internet sebagai misalnya, bisa jadi mengarahkan kita pada konten-konten yang justru berseberangan dengan pembelajaran yang kita ingin dapatkan pada awalnya.

Banyaknya konten pornografi dalam bentuk iklan yang tersebar diberbagai situs internet, termasuk juga menjamurnya informasi-informasi yang kontradiktif dengan nilai-nilai kebenaran dapat mempengaruhi cara berpikir yang tadinya positip menjadi negatip.

Begitupula dengan keberadaan situs jejaring sosial seperti contohnya Twitter dan Facebook yang dapat mengalihkan proses pembelajaran sesungguhnya dengan menghabiskan waktu hanya untuk sebatas memperbincangkan hal yang tidak jelas. Begitupun misalnya dengan interaksi sosial nyata dalam lingkungan yang sesungguhnya bisa terganggu apabila kemudian kita (baik sebagai guru maupun siswa) hanya mencukupkan pertemanan sosial dalam batas dunia maya saja.

Pertanyaan :

Suatu statement diungkapkan bahwa “makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan “ hal ini merupakan prinsif dasar pembelajaran berbasis teknologi pendidikan. Bagaimana pendapat anda ? (skor maksimal 20)

Jawaban :

Pada dasarnya, semakin kita berpikir maka semakin banyak kita menggunakan intensitas otak kita. Dan bila semakin banyak kita menggunakan otak kita, maka akan lebih baik dilihat dari sudut menciptakan pertambahan tingkat intelejensia atau pengetahuan.

Didalam otak kita, ada sepuluh hingga lima belas milyar sel otak dan didalam sepuluh atau lima belas milyar sel otak tersebut ada ribuan tentakel lagi didalamnya dan didalam setiap tentakel itu sendiri terdapat ribuan tonjolan (mirip bantalan penghisap) yang mana dari hubungan yang terbentuk oleh reaksi lembut elektrokimia antar tonjolan-tonjolan inilah yang menunjukkan tingkat intelektualitas atau kemampuan seseorang. Masing-masing sel otak tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yang berbeda, dari yang benar-benar kreatif dan imajinatif sampai yang paling logis dan kuantitatif.

Adanya pengulangan-pengulangan dalam sejumlah hal pada sebuah pembelajaran akan menjadi sebuah stimulus atau rangsangan pada sel-sel otak kita untuk lebih mudah mengingat pelajaran tersebut.

Melalui media teknologi, pengulangan-pengulangan pembelajaran bisa divariasikan sedemikian rupa sehingga berkesan tidak membosankan. Melalui media televisi misalnya kita bisa mengubah suatu pelajaran yang monoton menjadi interaktif dengan bentuk film-film animasi, melalui presentasi komputer juga demikian dan seterusnya.

Categories: Pascasarjana, Teknologi Pendidikan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: