Landasan Teori dan Konsep Sistem

Oleh : Armansyah

Teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002 : 1177). Selain itu, Snelbecker dalam Miarso (2009:102) juga mengemukakan bahwa secara sederhana teori dapat diartikan sebagai ringkasan pernyataan yang melukiskan dan menata sejumlah pengamatan empirik.

Kemudian arti dari istilah landasan sendiri adalah alas atau tumpuan ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002 : 633 ). Sehingga dapat dikatakan bahwa landasan teori memuat teori-teori atau konsep-konsep dasar, yang diambil dari buku-buku acuan yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang diteliti sebagai tuntunan, untuk memecahkan masalah penelitian dan untuk merumuskan hipotesis.

Sistem berasal dari bahasa latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) yang berarti suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi. Menurut Jogiyanto (2005  :  1) adalah :  suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu aturan tertentu. Sementara menurut Raymond McLeod dan George Schell (2004:9), system adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud sama mencapai suatu tujuan tertentu.

 

Sistem yang merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti komputer. Komputer merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti prosessor, harddisk, mainboard RAM, ROM, Keyboard, Monitor dan lain sebagainya yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu komponen komputer yang bertujuan untuk membantu penyelesaian tugas tertentu dari manusia.

Menurut Gordon B. Davis, William A. Shrode, dan Dan Voich (Tatang M. Amirin, 1996:59-61) jenis-jenis sistem terdiri dari :

  1. Berdasarkan wujudnya, sistem dibedakan menjadi empat jenis yaitu sistem fisik (mobil), sistem konseptual (ilmu), sistem biologi (tubuh manusia), dan sistem sosial (sekolah)
  2. Berdasarkan asal usul kejadiannya, sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem alamiah (alam semesta) dan sistem buatan manusia (pendidikan)
  3. Berdasarkan daya gerak yang ada di dalamnya, sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem mekanistik/deterministic (sepeda motor) dan sistem organismik/probabilistic (organisasi)
  4. Berdasarkan hubungan dengan lingkungannya, sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem terbuka (sistem yang berinteraksi dan memiliki ketergantungan kepada lingkungan atau sistem lain yang ada di dalam suprasistemnya, mengambil input dari lingkungannya dan memberikan output kepada lingkungannya dan sistem tertutup (sistem yang tidak berhubungan dengan lingkungan) (Dinn Wahyudin,2008:8.4-8.5).

Ciri-ciri umum suatu sistem adalah :

  1. Merupakan suatu kesatuan atau holistic
  2. Memiliki bagian-bagian yang tersusun sistematis dan berhierarki
  3. Bagian-bagian itu berelasi satu dengan yang lain
  4. Konsem/peduli terhadap konteks lingkungannya (Made Pidarta,2007:28).

Contohnya komputer tadi sebagai suatu sistem merupakan suatu kesatuan. Bagiannya terdiri dari cashing alias penutup dan Isi. Penutup terdiri dari bagian luar dan modelnya. Isi terdiri dari kabel, prosessor, harddisk, cddrive, power supply dan seterusnya. Bagian-bagian itu adalah bertingkat atau berhierarki dan berhubungan satu dengan yang lain. Sedangkan konsep terhadap lingkungan tampak pada cashingnya yang nyaman disentuh dan dipandang, hemat tempat dan aman dari kejutan listrik.

Pendidikan sebagai sistem adalah sistem pengembangan input menjadi output atau pengembangan peserta didik baru masuk sampai lulus adalah:

  1. Subsistem input : peserta didik yang baru masuk
  2. Subsistem proses : proses belajar mengajar
  3. Subsistem output : lulusan lembaga pendidikan itu

Bila proses belajar mengajar dipandang sebagai sistem , maka subsistem-subsistemnya adalah bahan pelajaran, metode belajar mengajar, alat belajar/alat peraga/media belajar, lingkungan/iklim belajar, manajemen/administrasi kelas, para siswa/mahasiswa, pendidik, pengawas, dan evaluasi/umpan balik (Made Pidarta,2007:32-34).

Philip H.Coombs (Depdikbud, 1984/1985:68) mengidentifikasi adanya 12 komponen pokok sistem pendidikan yaitu :

  1. Tujuan dan prioritas, fungsinya untuk mengarahkan kegiatan sistem
  2. Anak didik, fungsinya belajar hingga mencapai tujuan pendidikan
  3. Pengelolaan, fungsinya merencanakan, mengkoordinasikan, mengarahkan, dan menilai sistem
  4. Struktur dan jadwal, fungsinya mengatur waktu dan mengelompokkan anak didik berdasarkan tujuan tertentu
  5. Isi/kurikulum, fungsinya sebagai bahan yang harus dipelajari anak didik
  6. Pendidik/guru, fungsinya menyediakan bahan, menciptakan kondisi belajar, dan menyelenggarakan pendidikan
  7. Alat bantu belajar, fungsinya memungkinkan proses belajar mengajar menarik, lengkap, dan bervariasi
  8. Fasilitas, fungsinya sebagai tempat terselenggaranya pendidikan
  9. Teknologi, fungsinya mempermudah atau memperlancar pendidikan
  10. Pengawasan mutu, fungsinya membina peraturan dan standar pendidikan
  11. Penelitian, berfungsi mengembangkan pengetahuan, penampilan sistem, dan hasil kerja sistem
  12. Biaya, berfungsi sebagai petunjuk efisiensi sistem

Dalam sistem pendidikan terjadi proses transformasi yaitu proses mengubah raw input (anak didik) agar menjadi manusia terdidik sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, semua komponen pendidikan melaksanakan fungsinya masing-masing dan berinteraksi satu sama lain yang mengarah kepada pencapaian tujuan pendidikan.

Adapun output atau hasilnya adalah manusia terdidik yang diperuntukkan bagi masyarakat atau sistem lain yang berada di dalam suprasistem. Dalam sistem pendidikan terdapat komponen pengawasan mutu atau kontrol kualitas.

Pelaksanaan fungsi komponen ini akan menghasilkan umpan balik yang digunakan untuk melaksanakan koreksi untuk proses transformasi berikutnya. Dengan adanya kontrol kualitas yang menghasilkan feedback untuk melakukan perbaikan dalam proses transformasi berikutnya, ini diharapkan agar sistem pendidikan mampu mempertahankan eksistensi dan meningkatkan prestasinya (Dinn Wahyudin, 2008:8.9-8.10).

Jadi makna memandang pendidikan sebagai sistem yang dilandasi oleh teori-teorinya dalam menangani pendidikan, baik mempertahankan yang sudah ada, memperbaiki, maupun mengadakan sesuatu yang baru hendaklah memperhatikan bagian-bagiannya atau semua subsistemnya secara berimbang atau proporsional. 

Categories: Pascasarjana, Teknologi Pendidikan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: