Perubahan Kurikulum SD dalam tinjauan

Oleh : Armansyah

Kurikulum anak-anak Sekolah Dasar alias Es De (SD) telah ditetapkan untuk berubah pada Tahun Pelajaran 2013/2014. Sejumlah mata pelajaran dipangkas dari jumlahnya yang sekarang.

Selama ini pada jenjang SD rata-rata setiap sekolah memiliki 11 mata pelajaran. Jika anak anda sekolah disekolah keagamaan seperti Muhammadiyah maka jumlah mata pelajarannya akan lebih banyak lagi. Saya ambil contoh misalnya mata pelajaran yang harus dipelajari oleh anak saya di Muhammadiyah:

  1. Matematika
  2. Bahasa Indonesia
  3. KTK
  4. Al-Islam
  5. Bahasa Inggris
  6. IPA
  7. Kemuhammadiyahan
  8. Penjas
  9. IPS
  10. Jarlisku
  11. Bahasa Arab
  12. Komputer
  13. Senam
  14. PKN
  15. Pramuka
  16. Pengembangan Diri

Dari jumlah 11 mata pelajaran di sekolah dasar umum atau 16 mata pelajaran disekolah dasar dengan contoh Muhammadiyah diatas, akan disarikan menjadi 7 mata pelajaran saja, masing-masing :

  1. Pendidikan Agama
  2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN)
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. Pengetahuan Umum
  6. Kesenian
  7. Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan (PJOK)

Pelajaran Pendidikan Umum dalam kurikulum pendidikan baru merupakan peleburan dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Di samping itu pun masih terdapat wacana bahwa cukup 6 mata pelajaran dengan meniadakan pelajaran Pengetahuan Umum. Untuk materi IPA dan IPS cukup diintegrasikan dalam pelajaran-pelajaran lain semisal Bahasa Indonesia, PPKN, Kesenian, ataupun PJOK.

Pada hakekatnya, jangankan pelajaran IPA-IPS yang dipadukan menjadi Pengetahuan Umum. Bahkan Matematika, Kesenian dan Ketrampilan serta Bahasa Inggris juga bisa di integrasikan menjadi satu. Semisal mengajarkan siswa ketrampilan membuat mistar kayu yang sangat sederhana yang masih sering digunakan dikelas.

Bisa saja seorang guru mengawali pelajaran dengan menyebut harga sebuah mistar yang dijual dipasaran. Kemudian mendiskusikan lewat tanya jawab dengan para siswa soal berapa harga mistar itu jika harus dikalikan dengan jumlah siswa didalam kelas (penerapan ilmu matematika). Kemudian, diskusikan juga tentang berapa keuntungan yang didapat oleh seorang penjual mistar kayu jika kita misalnya membeli sebuah mistar dengan harga Rp 5000 lalu menjualnya Rp. 7500? (disini penerapan ilmu ekonomi).

Guru juga selanjutnya bisa mengembangkan contoh ini lebih jauh, misalnya tentang cara pembuatan (terkait dengan mata pelajaran keterampilan), keindahan bentuk (seni), dan apa saja fungsi mistar kayu itu (sosial), serta dari apa dan dari mana bahan bakunya (ilmu pengetahuan alam dan bisa juga muatan lokal) serta bagaimana cara menyebutnya dalam bahasa Inggris.

Siswa lalu dituntun untuk belajar membuat sebuah mistar kayu yang sederhana dibawah bimbingan dan supervisi dari guru yang bersangkutan. Bukankah hal-hal semacam ini sebenarnya bisa saja diterapkan?

Dulu sewaktu SD, yaitu kisaran tahun 80-an, saya ingat sekali ada pelajaran Ketrampilan. Dipelajaran itu, saya pernah dibimbing untuk membuat berbagai prakariya (benar ndak tulisannya ya?).

Misalnya membuat cetak biru sebuah ruang tamu yang dilengkapi oleh kursi tamu dengan media kotak rokok dan korek api. Membuat ketupat dengan media kertas. Membuat bola kaki dan lain sebagainya.

Saya berani menantang anak-anak SD jaman sekarang, berapa banyak dari mereka ini yang masih bisa membuat kapal-kapalan dari kertas? baik itu kapal laut atau juga pesawat yang bisa diterbangkan dengan cara meniup kertas itu sambil dilempar keudara? Berapa banyak dari anak-anak SD jaman sekarang yang bisa membuat rumah ketupat?

Melihat kurikulum anak-anak SD dijaman sekarang ini, saya ingat dulu salah seorang sutradara kenamaan dari Amerika yang bernama Stanley Kubrick, pernah berkata : 

“I think the big mistake in schools is trying to teach children anything, and by using fear as the basic motivation. Fear of getting failing grades, fear of not staying with your class, etc. Interest can produce learning on a scale compared to fear as a nuclear explosion to a firecracker.”

(kutipanberasal dari link: http://www.goodreads.com/author/quotes/5737.Stanley_Kubrick?auto_login_attempted=true)

Kesalahan fatal kurikulum kita selama ini adalah mencoba mengajarkan segala hal pada kanak-kanak dan menggunakan rasa takut sebagai motivasi dasarnya. Misanya rasa takut untuk tidak naik kelas. Sepertinya kita tak cukup sabar membentuk anak-anak usia SD itu untuk mengerti segala hal laksana orang dewasa. Kurikulum kita telah merampas banyak hak kesenangan dan keceriaan dari anak-anak SD sekarang. Kurikulum SD kita saat ini memang terlalu memaksakan seorang anak untuk cepat dewasa.

Mereka dijejali dengan begitu banyak mata pelajaran yang belum tentu mereka butuhkan dan mereka bisa kuasai di usia seperti itu.  Bahkan metode Matematikanya saja sudah sedemikian menjelimet dan memusingkan kepala (pengalaman saya membantu anak saya yang kelas 2 SD menyelesaikan PR Matematikanya). Kenapa tidak sekalian saja anak-anak SD itu diajarkan cara membuat bom atom atau uranium?

Coba ada soal begini misalnya :

428 – 365 = ?

400 + 20 + 8 = 300 + 120 + 8

300 + 60 + 5 = 300 + 60 + 5

—————————————— ( – )

Darimana angka 300 + 120 diatas? saya sempat bingung juga awalnya. Setelah melakukan konsentrasi dan pemusatan pikiran ala para pendekar dunia persilatan, akhirnya saya tahu, ternyata angka 300 itu didapat dari pengurangan 100-nya 400 yang diberikan pada angka 20. Sebab 20 tidak bisa dikurang dengan angka 60 dibawahnya.

120 + 8 

60 + 5

———— ( – )

60 + 3

Cara penyelesaian hitungan diatas adalah : 120 dikurang 60, 2 ada diotak dan 10 ada dijari tangan. Lalu didapat hasilnya 6, maka dibuatlah 60. Begitu juga seterusnya sehingga hasil akhirnya 60 + 3 menjadi 63.

WOW. cara itu untuk Matematika anak saya yang kelas 2 SD !

Bagaimanapun, saya sebagai orang tua dari dua anak yang saat ini masih duduk dibangku SD, saya sendiri sering merasa kasihan melihat beratnya tentengan tas mereka di pagi hari saat berangkat ke sekolah. Didalam tas itu, penuh dengan beragam jenis buku cetak maupun buku tulisnya. Terkadang bahkan, satu mata pelajaran punya dua buah buku cetak, satu buku cetak yang standar dan lainnya buku cetak yang disebut dengan buku super. Benar-benar gila saya pikir kurikulum anak-anak SD jaman sekarang. 

Hak-hak itu rasanya semakin terampas ketika saya sebagai orang tua misalnya harus memasukkan kembali kedua anak saya itu kelembaga-lembaga kursus tertentu agar mereka bisa lebih kompetitif, cerdas dan tidak tertinggal dari teman-temannya yang lain disekolah. Sering sayapun harus perang batin melihat malam hari anak-anak ini tertidur demikian pulasnya, seakan benar-benar kelelahan menghabiskan hari demi harinya dengan belajar dan belajar.

Beda ketika dulu saya masih SD, waktu itu, kita masih cukup fun dan enjoy menikmati hari-hari sepulang sekolah. Tas yang  harus dijinjingpun tidak seberat anak-anak SD dijaman sekarang ini. 

Lalu bagaimana nasib para guru mata pelajaran lain yang telah dipangkas itu? misalnya guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang telah bertahun-tahun mengabdi disebuah SD dan menjadi satu-satunya mata pencaharian hidupnya?

Inilah pekerjaan rumah dari pemerintah yang melibatkan juga pihak sekolah untuk bijak dalam menjawabnya… Een voor Allen maar Ook Allen voor Een,  (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga), One for all and all for one.

Lepas dari semua itu, saya, baik sebagai orang tua maupun juga pendidik, sangat sepakat dengan pengurangan mata pelajaran dibangku Sekolah Dasar. Biarkan anak-anak menikmati hari-harinya dengan penuh keceriaan…

Masa kecil hanya terjadi satu kali, kita sebagai orang dewasa jujur saja, justru sering ingin kembali pada masa-masa kecil kita dahulu. Lalu, bagaimana dengan anak-anak kita sekarang? apa yang kelak akan mereka kenang dan mereka rindukan dimasa dewasanya? 

Categories: Kurikulum | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: