Ujian Nasional dalam kontroversi

Pelaksanaan dari Ujian Nasional sendiri dari awal sudah menuai kontroversi dikalangan pemerintah maupun masyarakat. Mahkamah Agung dalam Perkara No. 2596 K/Pdt/2008 tanggal 14/09/2009 memutuskan, menolak permohonan kasasi pemerintah terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Dengan kata lainnya, UN seharusnya tidak boleh lagi diselenggarakan.

Dan status hukumnya adalah in kracht van gewijsde (mempunyai kekuatan hukum tetap). Tetapi fakta dilapangan, Departemen Pendidikan melalui Menteri Pendidikan Nasionalnya sendiri justru mengambil sikap berseberangan dengan Mahkamah Agung. Ujian Nasional masih terus digelar. 

Logika sederhana saja, bagaimana mungkin mau dibuat standar antara kemampuan siswa yang bersekolah di tengah kota dengan fasilitas lengkap dan modern, setiap hari keluar masuk lab yang high tech dan mainannya gadget dengan kemampuan siswa yang bersekolah di daerah terpencil jauh dari kota, yang jangankan lab komputer, lab bahasa atau lab fisika dan kimia, wong listrik saja masih mejam-melek ? Belum lagi dari SDM pengajarnya sendiri….

Coba perhatikan ilustrasi ini :

ilustrasi UN

ilustrasi UN

Akibatnya banyak markup dilakukan oleh pihak sekolah demi kelulusan siswanya, guru-guru bidang studi dikerahkan untuk membuka amplop soal dan menjawab semua pertanyaan untuk kemudian kunci jawaban itu diberikan kepada siswa. 

Saya dan banyak pihak yang kontra dengan UN berani memberikan taruhan jika siswa-siswa yang mendapat nilai 9 pada UN nya itu yang ada didaerah-daerah terpencil adalah benar-benar hasil pekerjaannya sendiri. Coba test langsung siswanya dengan soal yang sama tetapi real time. 

Ujian Nasional tetap dipaksakan ada dan terselenggara jelas terindikasi bukan untuk pemerataan mutu pendidikan namun lebih banyak kearah komersialisasi pendidikan. Ini adalah proyek yang membuka pundi-pundi uang. Coba renungkan saja sendiri dan jawab dengan hati nurani, berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk mencetak naskah soal UN? lembar jawaban? produksi kaset listening bahasa Inggris? pengamanan dan lain sebagainya.

Tidak berlebihan jika banyak perguruan tinggi negeri justru menolak menjadikan nilai UN sebagai standar bagi seorang siswa untuk masuk ke universitasnya.

#Sebuah tulisan yang menjadi brainstorm dari mata kuliah Landasan dan Problematika Pendidikan🙂

Categories: Ujian Nasional | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: