Problematika Pendidikan Berbasis Karakter

Oleh : Armansyah

Dasar operasionalnya :

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)

Pasal 1 ayat 1  yang menyatakan bahwa :

“Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pasal 3 :

“Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam UUSPN ini menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan termasuk pendidikan dasar (SD/MI) sangat menitikberatkan pada pembinaan karakter yang berbasiskan pada etika, nilai dan moral.

Pendidikan berbasis karakter pada hakekatnya merupakan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan berbasis karakter mestinya bermula dari keluarga sebagai lingkup komunitas utama dan terdekat dari seorang anak manusia, berlanjut pada komunitas lingkungan disekitarnya dan juga pendidikan formal.

Gambar disamping ini adalah salah satu contoh penerapan pendidikan karakter didalam kelas… mengintegrasikan nilai-nilai sejarah bangsa dan rasa nasionalisme didalam animasi komputer. Dalam hal ini, adalah mengenal Wakil Presiden Republik Indonesia yang pernah menjabat sejak era Proklamasi 1945 sampai era reformasi sekarang ini.

Siswa tidak hanya diarahkan untuk mampu membuat animasi yang menampilkan tokoh-tokoh kartun seperti Shincan, Doraemon atau lainnya namun juga menyelaraskan pengetahuannya sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional.

Theodore Roosevelt pernah berkata: To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society.

Begitupula dengan John Luther pernah berkata : “Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talents are to some extent a gift.  Good character, by contrast, is not given to us.  We have to build it piece by piece— by thought, choice, courage and determination.“   

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, tahap demi tahap sesuai dengan tingkat pendidikan dan kelasnya, maka seorang siswa akan menjadi insan yang cerdas secara emosional, cerdas dalam hal kepribadian. Dengan kecerdasan  karakter seperti ini, siswa akan optimis dalam menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Itulah kiranya juga bagaimana misalnya, Nabi Muhammad SAW, sebagai tokoh sentral dalam bidang pendidikan moral dan akhlak didalam agama Islam pernah menyatakan :

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal selain akhlak yang baik.” (sumber : kitab Sunan Abu Daud No. 4166)

Bahkan Nabi Muhammad juga mengajarkan sebuah doa yang berkaitan dengan kebagusan akhlak:

Dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengerjakan shalat, beliau bertakbir kemudian membaca; “…WAHDINII LIAHSANIL AHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA WASHRIF ‘ANNI SAYYI`AHAA LAA YASHRIF SAYYI`AHAA ILLA ANTA. … dan tunjukilah aku kepada akhlak yang baik, dan tak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang tercela, karena tidak ada yang dapat menjauhkanku dari akhlak yang tercela melainkan Engkau. (sumber: kitab  Sunan Abu Daud No. 649)

Prof . Suyanto Ph.D dalam tulisannya yang berjudul “Urgensi Pendidikan Karakter”, mengatakan: 

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. 

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. (sumber : http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html)

Tapi jangan lupa juga bahwa pendidikan berbasis karakter, bukan hanya diselenggarakan dalam lingkungan sekolah formal. Seperti yang sempat saya singgung dibagian atas, lingkungan keluarga dan masyarakat juga memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik seorang anak manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap bayi terlahir dalam keadaan suci di atas fitrahnya, maka bapaknyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (sumber: Musnad Ahmad No. 8739)

Sabda Nabi Muhammad diatas selaras juga dengan teori kertas putihnya John Locke : the mind begins life as a sheet of blank paper. Individuals are born without built-in mental content and that their knowledge comes from experience and perception. 

Bagaimana misalnya, cara orang tua sehari-hari memarahi anak-anaknya, penggunaan kata-kata yang santun baik dalam berkomunikasi verbal maupun tulisan, mencontohkan untuk menjawab telepon yang baik, memerintahkan sholat seraya juga melakukan sholat dan menjadi imam atas istri dan anak-anaknya, tidak merokok ceplas-ceplos didepan anak dan sebagainya.

Apa yang kita temui dipraktek sehari-hari justru hal sebaliknya, orang tua mengajarkan anaknya berbohong ketika ada orang yang mencarinya, disuruhnya sang anak untuk mencari alasan ini dan itu seperti ibu atau bapak sedang tidak dirumah, sedang tidur, sedang keluar kota dan seterusnya. Anak dimarahi dengan menggunakan kata-kata kasar dan sarat dengan nama-nama hewan yang ada dikebun binatang. Orang tua menyuruh anaknya sholat tapi siorang tua sendiri masih asyik nonton sinetron atau main fesbukan. Lalu pendidikan karakter seperti apa yang akan diberikan pada sianak?

Disekolah, guru misalnya mengajarkan anak tentang akhlak yang luhur, berbicara tentang disiplin namun guru itu sendiri misalnya berpakaian centang prenang, telat datang kekelas, bahkan yang lebih gila lagi, ada guru yang menzinahi siswanya sendiri. Moral apa yang hendak ditanamkan?

Belum lagi misalnya ketika penyelenggaraan Ujian Nasional, nah ini yang kerap terjadi dibanyak sekolah (not All but commonly). Siswa dengan alasan doa bersama, makan bersama dan seterusnya tetapi justru sebenarnya dibagikan kunci jawaban dari soal-soal Ujian Nasional yang sudah dihunting oleh para guru yang disebut Tim Sukses,  satu malam sebelum soal UN dibagikan. Pendidikan karakter seperti apa yang akan diteladankan oleh guru pada siswanya?

Jangan heran bila siswa jaman sekarang tidak ada lagi yang hormat pada gurunya seperti siswa-siswa jaman 80-an dulu. Saya dulu, jika sudah menjelang ujian, entah apakah itu Ebta atau Ebtanas, ada yang disebut dengan minggu tenang. Ya, benar-benar libur. Tidak ada acara datang kesekolah untuk ini dan itu apalagi menerima jawaban dari guru. Ahay, jauh tange kata orang Palembang :-)

Belum lagi misalnya sikap para pemimpin kita yang duduk diparlemen maupun eksekutif yang sering mencontohkan perilaku yang tidak terpuji. Misalnya “baku hantam” antara Polri versus KPK yang terjadi tahun 2012, belum lagi baku hantam ditengah sidang paripurna MPR/DPR yang ditayangkan secara langsung oleh banyak televisi nasional.

Pertanyaan kembali mencuat : Karakter seperti apa yang akan diajarkan dan ditanamkan pada generasi muda?

Inilah problematika yang menjadi pekerjaan rumah kita semua dalam penerapan kurikulum berbasis karakter.

Categories: Kurikulum, Ujian Nasional | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.308 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: